Terapi Wicara untuk Anak Autis dan Asperger Syndrome

Walau sampai saat ini belum ada metode terapi yang 100% dapat menyembuhkan autism, anak-anak dengan autism spectrum disorder (ASD) atau anak autis seringkali dirujuk kepada terapis wicara. Seorang speech-language pathologist (SLP) dapat mengevaluasi anak untuk menentukan kemampuan komukasi dan interaksi sosialnya. Metode terapi yang digunakan bervariasi tergantung karakteristik aanak dan tipe ASDnya. Sebagai contoh, anak dengan Asperger’s syndrome dan anak dengan low-functioning autism.

Asperger's Syndrome
Orang tua dengan anak Asperger’s syndrome mungkin terkejut bila tahu bahwa terapi wicara dapat bermanfaat bagi anak mereka. Anak-anak dengan Asperger’s syndrome umumnya tidak menunjukkan keterlambatan perkembangan dalam hal bahasa dan mereka biasanya mampu untuk bercakap-cakap.

Meskipun demikian, biasanya anak-anak ini cenderung bercakap-cakap dengan sedikit canggung. Orang tua mungkin menyadari anak mereka berbicara dengan nada yang monoton atau kadang terlalu cepat. Anak juga mungkin menghindari kontak mata dan menunjukkan sedikit ekspresi wajah, bahkan saat mendiskusikan suatu topik yang penuh emosi. Saat anak tumbuh dewasa, orang tua mungkin menyadari anak mereka menunjukkan keterikatan yang tidak biasa terhadap satu atau dua topik pembicaraan. Anak juga mungkin melakukan pembicaraan dengan dirinya sendiri, terus bertahan membicarakan suatu topik walau orang lain berusaha berkali-kali mengubah topik.

Anak-anak dengan Asperger’s syndrome  akan mendapatkan manfaat dari terapi wicara. Seorang SLP akan fokus mengajari anak mengenai aturan-aturan berbahasa dalam interaksi sosial. Mulai dari belajar memposisikan diri saat berbicara dengan orang lain,  memahami bahasa tubuh, nada bicara, nuansa bahasa seperti sarkasme atau hiperbola, sampai belajar menggunakan ekspresi wajah saat berkomunikasi. Anak juga akan belajar cara membuat kontak mata dan menggunakan ritme natural saat berbicara.

Low-functioning autism
Anak-anak dengan low-functioning autism memiliki kesulitan dalam menjawab pertanyaan dan dalam membuat orang lain mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka. Anak-anak seperti ini miskin kosa-kata bila dibandingkan dengan anak-anak lain seusia mereka. Beberapa anak bahkan sama sekali tidak bicara atau sedikit berbicara.

Anak-anak dengan low-functioning autism yang menunjukkan sedikit atau bahkan tidak bisa berkomunikasi, dapat merasakan manfaat dari terapi wicara. Seorang SLP dapat melatih anak dengan menggunakan metode komunikasi non-verbal. Ia dapat mengajari anak untuk menggunakan bahasa tubuh.

Beberapa anak autis mengalami kemajuan dalam berkomunikasi dengan menggunakan alat bantu bicara elektronik atau mengetik daripada berbicara. Beberapa anak lain mengalami kemajuan dengan menggunakan metode kartu bergambar. Dalam metode ini, seorang SLP akan menggunakan kartu bergambar. Idealnya, gambar yang digunakan adalah gambar yang disukai anak seperti olahraga kesukaan atau mainan favorit. Melalui pengulangan, anak akan belajar saat ia mengangsurkan kartu bergambar yang tepat ia akan menerima benda/hal seperti yang ada di kartu. Lambat laun, seorang SLP akan memasukkan unsur bahasa dalam metode terapi ini.

Terapi wicara untuk anak-anak dengan low-functioning autism membutuhkan proses yang sangat panjang. Seorang SLP harus memberikan peer kepada orangtua untuk dikerjakan bersama anak mereka di rumah. Hal ini dilakukan karena semakin banyak pengulangan yang diberikan, anak akan semakin cepat memahami dan menguasai.


Ciri Bayi Autis

Deteksi ASD (Autism Spectrum Disorders) sejak dini bermanfaat karena pada masa bayi, otak masih berkembang dan hal ini dapat mempercepat manfaat perawatan yang diberikan kepada anak. Meskipun ASD sulit dideteksi sebelum usia 2 tahun, ciri-cirinya biasanya bisa diketahui pada usia 1 tahun dan 1,5 tahun.

Berikut ini beberapa ciri-ciri ASD pada bayi dan balita.
1. Tidak ada kontak mata (misalnya melihat anda saat menyusui)
2. Tidak membalas senyuman anda
3. Tidak merespon saat dipanggil namanya
4. Tidak mengikuti objek bergerak secara visual
5. Tidak bisa menunjuk atau melambaikan tangan (da-dah)
6. Tidak mengikuti arah saat anda menunjuk sesuatu
7. Tidak membuat suara ribut atau menangis untuk menarik perhatian anda.
8. Tidak berinisiatif memeluk anda atau merespon pelukan anda
9. Tidak menirukan gerakan atau mimik muka anda (misal mencibir)
10. Tidak mengangsurkan tangan untuk diangkat
11. Tidak bermain dengan prang lain
12. Tidak meminta tolong atau meminta sesuatu.

Mintalah evaluasi dokter anak bila anda menemukan kelambatan ini:
Bayi 6 bulan: Tidak ada senyum atau ekspresi senang lainnya
Bayi 9 bulan: Tidak ada ekspresi sebagai respon (suara, senyum, atau ekspresi wajah lain)
Bayi 12 bulan: Tidak merespon terhadap namanya
Bayi 12 bulan: Tidak mengoceh suara bayi
Bayi 12 bulan: Tidak ada gerakan sebagai respon (menunjuk, memperlihatkan, meraih, atau melambaikan tangan)
Bayi 16 bulan: Tidak mengucapkan kata
Bayi 24 bulan: Tidak mengucapkan dua kata (bukan menirukan atau pengulangan)

Catatan
Bayi dapat melakukan ini semua TANPA diajarkan. Semua dipelajari sendiri secara natural.



HADIYA

Anda memiliki anak dengan Autism Spectrum Disorders?
Anda tinggal di sekitar Rawamangun Jakarta Timur?
Kunjungi Sekolah Autis Hadiya
Hadiya menyediakan pendidikan berkualitas
untuk anak-anak autisme
dan untuk anak-anak masalah perkembangan lain
(Hiperaktif, ADHD, ADD, PDD-NOS, dlsb).
Hadiya bertekad untuk dapat mengembangkan kemampuan anak
agar dapat anak mandiri melakukan kemampuan sehari-hari,
berkomunikasi dengan cara yang mampu dilakukan anak
bekerja serta memiliki mata pencaharian sendiri

Untuk info lebih lanjut
hubungi
Dwi indri oktaviani
Hp. 085773126070
http://www.hadiyaschool.com/

Total Pageviews